Senin, 24 September 2012

Namaku Lelaki

Lelaki sejati akan mengungkapkan niatnya karna ALLAH AZZA WA JALLA,dia akan hadir meminta restu orang tua yg menjadi calon dalam kehendak-Nya.

Lelaki yg setia karna cinta-Nya,tak akan berani memiliki sebelum halal baginya,namun dia akan meminta ridho-Nya utk yg di cintai menjadi teman setia dalam menempuh perjalanan menuju cahaya-Nya.”

Lelaki yang pintar,dia selalu berpikir apapun halangan yang

nampak,itu adalah ujiannya utk di artikan,mendapat yang indah butuh pengorbanan.. namun pengorbanan dalam berserah diri kepada-Nya.”

Apalah arti cinta,bila kesetian kepada ALLAH tiada.. Apalah arti cinta,bila rindu hanya sebatas utk menginginkan keindahan dunia.. Setia pada cinta Illahi,rindu pada kemuliaan Illahi dan Rosul-Nya, ia pun akan senantiasa menyayangi utk ikut bersama mengarungi kehidupan dalam seiya sekata.”....Wallahu'alam..

Senyum

Senyuman yang memancarkan ketulusan hati, akan membuat orang asing merasa nyaman, akan membuat teman menjadi lebih akrab, akan membuat keluarga lebih bahagia. Senyum didalam kehidupan manusia diibaratkan sekuntum bunga suci yang tidak akan layu...

Orang yang selalu tersenyum adalah orang yang memiliki sumber kebahagiaan dan kegembiraan.

Sebaliknya orang yang tidak pernah tersenyum, sanubarinya senantiasa dingin bagaikan salju yang membeku.

Dengan senyum menghadapi segala penghinaan, dengan senyum menghadapi bahaya, dengan senyum menjalani segala rintangan dalam hidup ini, dengan senyum menghadapi bahaya hidup dan mati, maka segala badai dan malapetaka akan lenyap. .... Smile ... ✿‿✿

Atas nama Cinta

Foto: Asal cinta milik ALLAH
Perginya cinta dengan izin ALLAH
Hilangnya cinta atas kehendak ALLAH
Dicintai dan mencintai anugerah dari ALLAH.
Aku harus yakinkan diriku bahwa Asal cinta milik ALLAH, kemudian ia akan  Pergi juga  dengan izin ALLAH, begitu juga dengan Hilangnya cinta, semua bergantung  atas kehendak ALLAH, Ku tanamkan dalam diri bahwa Dicintai dan mencintai adalah anugerah dari ALLAH subahanahu wataala.

Apa karyamu


Foto: Hai, Muslim! Apa Karyamu?

Berhenti, tak ada tempat di jalan ini.
Sikap lamban, berarti mati.
Mereka yang bergerak, mereka yang maju
ke muka. Mereka yang menunggu,
meski sejenak, pasti tergilas.
(Iqbal)

***

SEBAGAI agama yang dihadirkan dengan misi rahmatan lil ‘aalamiin, lingkup Islam menyentuh semua aspek kehidupan. Seorang muslim dituntut memahami Islam tidak sepotong-sepotong, tetapi harus secara komprehensip dan kaffah (menyeluruh).

Di samping konsolidasi pemahaman ke dalam, umat juga dituntut untuk melakukan syiar Islam bil hikmah ke pihak-pihak yang belum ber-Islam. Salah satu instrumen dakwah yang paling gampang bisa dilihat dan mempunyai daya tarik adalah sejauh mana performance umat Islam memberi kontribusi bagi kemajuan dan kemakmuran dunia. Tantangan ke depan semakin rumit dan kompleks. Umat Islam harus bertindak optimis dan proaktif untuk menjawabnya.

Sebagai kholifatullah fil ardli, umat Islam hadir membawa misi Ilahiyah. Dunia ini harus diproses menjadi mazra’ah al-akhirah (lahan akhirat). Ini memerlukan kualitas pemahaman sehingga sanggup memberi inspirasi etos kerja tingkat tingi. Jangan sampai kemiskinan dan kegagalan terjadi karena disengaja oleh prilaku hidup kita sendiri.

Genderang globalisasi telah ditabuh. Bebas bersaing dan bertanding. Di tengah gemuruhnya kehidupan dan panasnya api persaingan, mata batin tetap harus tajam, waspada dan lincah menghadapi tantangan, dan sigap menangkap setiap peluang. Karena hanya mereka yang mampu mencipta dan menangkap peluang yang kelak akan menjadi pemenang. Kewaspadaan, reaksi batin, kecepatan dan keuletan merupakan perangkat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang calon pemenang.

Hidup adalah perjuangan, dan perjuangan pasti mengandung resiko. Tak ada satu gerak pun di muka bumi ini yang berlalu tanpa resiko. Mereka yang ketakutan akan resiko adalah potret dari umat pengecut dan melawan fitnah alamiah.

Hidup terasa indah justru di saat kita keluar dari arena permainan yang penuh resiko sebagai pemenang. Sebaliknya, pengecut adalah mereka yang hadir di bumi dan kehilangan arah, rendah kemauan, serta membiarkan waktu berlalu tanpa makna. Sedikitpun tanpa merasa berdosa.

Kita hadir di dunia bagai biduk perahu yang telah lepas dari tali tambatnya. Kini hanya ada samudera terbentang di hadapan kita. Waspadalah! Kayuhlah terus, melaju dengan gagah perwira. Jangan gelisah apalagi mengumbar sumpah serapah. Sebab gerutu dan cacian tidak akan pernah menyelesaikan suatu masalah. Berhentilah menyalahkan nasib. Tegarkan kaki, gerakkan tangan, cerahkan pikiran, dan dayakan semua aset kemampuan yang dimiliki agar kehadiran kita di muka bumi ini penuh arti.

Islam memiliki pandangan positif terhadap etos kerja. Kesadaran kerja dalam Islam bermakna pahala. Bukan semata bernilai gaji dan menepis status gengsi. Tidak hanya untuk memuliakan diri sendiri, tetapi lebih dari itu kerja merupakan manifestasi dari realisasi iman.

Milenium III, umat Islam harus menyongsong kompetisi terbuka pasar global. Kita perlu mewaspadai petarung-petarung liar yang tidak menggunakan iman sebagai landasan bersaing. Sangat mungkin akan terjadi penggilasan kelompok-kelompok lemah oleh kelompok kuat. Mirip hukum rimba, yang lemah kian musnah, yang kuat semakin gagah.

Umat Islam harus mulai pasang kuda-kuda, benahi barisan umat, dan pertajam visi keilmuan jika tidak ingin menjadi santapan kaum kafir. Tidak bisa tidak, Islam harus semakin kokoh mewarnai dan membentuk pandangan setiap muslim. Yakni pandangan yang progresif, obsesif, dinamis dan optimis. Mampu melahirkan etos kerja yang tinggi, produktif, inovatif dan berstamina pantang menyerah.

Dengan cara ini, umat Islam akan memiliki daya saing kompetitif dan mengambil peran penting dalam pembentukan orde dunia yang bernuansa islami. Inilah salah satu modal dasar untuk mengukuhkan diri sebagai umat terbaik sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt.

So, kini masihkah terbersit dalam benak kita untuk bersantai ria, merelakan begitu saja waktu berlalu tanpa makna tiada guna?
***

1o Maret 2oo9 o8:o7 p.m.
Disadur dari Buletin Lembaga Dakwah Islam Gua Hiro, 2oo3.

Sumber : edumuslim.org
Hai, Muslim! Apa Karyamu?

Berhenti, tak ada tempat di jalan ini.
Sikap lamban, berarti mati.
Mereka yang bergerak, mereka yang maju
ke muka. Mereka yang menunggu,
meski sejenak, pasti tergilas.
(Iqbal)

***

SEBAGAI agama yang dihadirkan dengan misi rahmatan lil ‘aalamiin, lingkup Islam menyentuh semua aspek kehidupan. Seorang muslim dituntut memahami Islam tidak sepotong-sepotong, tetapi harus secara komprehensip dan kaffah (menyeluruh).

Di samping konsolidasi pemahaman ke dalam, umat juga dituntut untuk melakukan syiar Islam bil hikmah ke pihak-pihak yang belum ber-Islam. Salah satu instrumen dakwah yang paling gampang bisa dilihat dan mempunyai daya tarik adalah sejauh mana performance umat Islam memberi kontribusi bagi kemajuan dan kemakmuran dunia. Tantangan ke depan semakin rumit dan kompleks. Umat Islam harus bertindak optimis dan proaktif untuk menjawabnya.

Sebagai kholifatullah fil ardli, umat Islam hadir membawa misi Ilahiyah. Dunia ini harus diproses menjadi mazra’ah al-akhirah (lahan akhirat). Ini memerlukan kualitas pemahaman sehingga sanggup memberi inspirasi etos kerja tingkat tingi. Jangan sampai kemiskinan dan kegagalan terjadi karena disengaja oleh prilaku hidup kita sendiri.

Genderang globalisasi telah ditabuh. Bebas bersaing dan bertanding. Di tengah gemuruhnya kehidupan dan panasnya api persaingan, mata batin tetap harus tajam, waspada dan lincah menghadapi tantangan, dan sigap menangkap setiap peluang. Karena hanya mereka yang mampu mencipta dan menangkap peluang yang kelak akan menjadi pemenang. Kewaspadaan, reaksi batin, kecepatan dan keuletan merupakan perangkat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang calon pemenang.

Hidup adalah perjuangan, dan perjuangan pasti mengandung resiko. Tak ada satu gerak pun di muka bumi ini yang berlalu tanpa resiko. Mereka yang ketakutan akan resiko adalah potret dari umat pengecut dan melawan fitnah alamiah.

Hidup terasa indah justru di saat kita keluar dari arena permainan yang penuh resiko sebagai pemenang. Sebaliknya, pengecut adalah mereka yang hadir di bumi dan kehilangan arah, rendah kemauan, serta membiarkan waktu berlalu tanpa makna. Sedikitpun tanpa merasa berdosa.

Kita hadir di dunia bagai biduk perahu yang telah lepas dari tali tambatnya. Kini hanya ada samudera terbentang di hadapan kita. Waspadalah! Kayuhlah terus, melaju dengan gagah perwira. Jangan gelisah apalagi mengumbar sumpah serapah. Sebab gerutu dan cacian tidak akan pernah menyelesaikan suatu masalah. Berhentilah menyalahkan nasib. Tegarkan kaki, gerakkan tangan, cerahkan pikiran, dan dayakan semua aset kemampuan yang dimiliki agar kehadiran kita di muka bumi ini penuh arti.

Islam memiliki pandangan positif terhadap etos kerja. Kesadaran kerja dalam Islam bermakna pahala. Bukan semata bernilai gaji dan menepis status gengsi. Tidak hanya untuk memuliakan diri sendiri, tetapi lebih dari itu kerja merupakan manifestasi dari realisasi iman.

Milenium III, umat Islam harus menyongsong kompetisi terbuka pasar global. Kita perlu mewaspadai petarung-petarung liar yang tidak menggunakan iman sebagai landasan bersaing. Sangat mungkin akan terjadi penggilasan kelompok-kelompok lemah oleh kelompok kuat. Mirip hukum rimba, yang lemah kian musnah, yang kuat semakin gagah.

Umat Islam harus mulai pasang kuda-kuda, benahi barisan umat, dan pertajam visi keilmuan jika tidak ingin menjadi santapan kaum kafir. Tidak bisa tidak, Islam harus semakin kokoh mewarnai dan membentuk pandangan setiap muslim. Yakni pandangan yang progresif, obsesif, dinamis dan optimis. Mampu melahirkan etos kerja yang tinggi, produktif, inovatif dan berstamina pantang menyerah.

Dengan cara ini, umat Islam akan memiliki daya saing kompetitif dan mengambil peran penting dalam pembentukan orde dunia yang bernuansa islami. Inilah salah satu modal dasar untuk mengukuhkan diri sebagai umat terbaik sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt.

So, kini masihkah terbersit dalam benak kita untuk bersantai ria, merelakan begitu saja waktu berlalu tanpa makna tiada guna?
***
135Suka ·  · 

Inilah yang terbaik

Foto: Kamu tak harus menunggu tahun berganti tahun
untuk jadi pribadi yang lebih baik.
Kamu memiliki kemampuan untuk berubah,
kapanpun kamu mau!

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'du [13]: 11).
Kamu tak harus menunggu tahun berganti tahun
untuk jadi pribadi yang lebih baik.
Kamu memiliki kemampuan untuk berubah,
kapanpun kamu mau!

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'du [13]: 11).

Aku harus pahami

Kita harus melepaskan seseorang karena kita
menyadari yang ganteng, yang cantik, yang
istimewa belum tentu yang terbaik buat kita.

Kegagalan tidak berarti kita tidak mencapai
apa-apa... namun kita telah memahami sesuatu...!
Segala sesuatu ada waktunya, ada saat
mempertahankan, ada saat ...melepaskan...!!

Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu
jika Allah mengambil sesuatu, Allah telah siap ..memberi yang lebih baik buat kita. ^_^

Surat Dari Ibu Yang Terkoyak Hatinya


Foto: Surat Dari Ibu Yang Terkoyak Hatinya

Anaku….
Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh m
erobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.

Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku…
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku…
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…

Anakku…
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.

Anakku…
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayag dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.

Anakku…
Allah berfirman: “Dan dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal” [Yusuf : 111]

Pandanglah masa teladan dalam Islam, masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tua.

KISAH TELADAN KEPADA ORANG TUA
Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan kekufuran. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita.

Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku benci. Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku mengadu.

“Wahai Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku. Hari ini, dia berkomentar tentang dirimu yang aku benci. Mohonlah kepada Allah supaya memberi hidayah ibu Abu Hurairah”. Rasulullah bersabda : “Ya, Allah. Tunjukilah ibu Abu Hurairah”. Aku keluar dengan hati riang karena do’a Nabi. Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu terbuka. Ibuku mendengar kakiku dan berkata : “Tetap di situ Abu Hurairah”. Aku mendengar kucuran air. Ibu-ku sedang mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya serta menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia berkata : “Wahai, Abu Hurairah ! Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu”. Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan menangis gembira. Aku berkata, “Wahai, Rasulullah, Bergembiralah. Allah telah mengabulkan do’amu dan menunjuki ibuku”. Maka beliau memuji Allah dan menyanjungNya serta berkomentar baik” [Hadits Riwayat Muslim]

Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya : “Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku) wahai Ibnu Umar?” Beliau menjawab : “Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)”.

Zainal Abidin, adalah seorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang keheranan kepadanya (dan berkata) : “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam satu talam”? Ia menjawab,”Aku khawatir tanganku mengambil sesuatu yang dilirik matanya, sehingga aku durhaka kepadanya”.

Sebelumnya, kisah yang lebih mengharukan terjadi pada diri Uwais Al-Qarni, orang yang sudah beriman pada masa Nabi, sudah berangan-angan untuk berhijrah ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi. Namun perhatiannya kepada ibunya telah menunda tekadnya berhijrah. Ia ingin bisa meraih surga dan berteman dengan Nabi dengan baktinya kepada ibu, kendatipun harus kehilangan kemuliaan menjadi sahabat Beliau di dunia.

Dalam shahih Muslim, dari Usair bin Jabir, ia berkata : Bila rombongan dari Yaman datang, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka : “Apakah Uwais bin Amir bersama kalian ?” sampai akhirnya menemui Uwais. Umar bertanya, “Engkau Uwais bin Amir?” Ia menjawa,”Benar”. Umar bertanya, “Engkau dari Murad kemudian beralih ke Qarn?” Ia menjawab, “Benar”. Umar bertanya, “Engkau punya ibu?”. Ia menjawab, “Benar”. Umar (pun) mulai bercerita, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Akan datang pada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman yang berasal dari Murad dan kemudian dari Qarn. Ia pernah tertimpa lepra dan sembuh total, kecuali kulit yang sebesar logam dirham. Ia mempunyai ibu yang sangat dihormatinya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya aku hormati sumpahnya. Mintalah ia beristighfar untukmu jika bertemu”.

(Umar berkata), “Tolong mintakan ampun (kepada Allah) untukku”. Maka ia memohonkan ampunan untukku. Umar bertanya, “Kemana engkau akan pergi?”. Ia menjawab, “Kufah”. Umar berkata, “Maukah engkau jika aku menulis (rekomendasi) untukmu ke gubernurnya (Kufah)?” Ia menjawab, “Aku lebih suka bersama orang yang tidak dikenal”.


Kisah lainnya tentang bakti kepada ibu, yaitu Abdullah bin Aun pernah memanggil ibunya dengan suara keras, maka ia memerdekakan dua budak sebagai tanda penyesalannya.

KISAH KEDURHAKAAN KEPADA ORANG TUA
Diceritakan ada lelaki yang sangat durhaka kepada sang ayah sampai tega menyeret ayahnya ke pintu depan untuk mengusirnya dari rumah. Sang ayah ini dikarunia anak yang lebih durhaka darinya. Anak itu menyeret bapaknya sampai kejalanan untuk mengusirnya dari rumahnya. Maka sang bapak berkata : “Cukup… Dulu aku hanya menyeret ayahku sampai pintu depan”. Sang anak menimpali : “Itulah balasanmu. Adapun tembahan ini sebagai sedekh dariku!”.

Kisah pedih lainnya, seorang Ibu yang mengisahkan kesedihannya : “Suatu hari istri anakku meminta suaminya (anakku) agar menempatkanku di ruangan yang terpisah, berada di luar rumah. Tanpa ragu-ragu, anakku menyetujuinya. Saat musim dingin yang sangat menusuk, aku berusaha masuk ke dalam rumah, tapi pintu-pintu terkunci rapat. Rasa dingin pun menusuk tubuhku. Kondisiku semakin buruk. Anakku ingin membawaku kesuatu tempat. Perkiraanku ke rumah sakit, tetapi ternyata ia mencampakkanku ke panti jompo. Dan setelah itu tidak pernah lagu menemuiku”

Sebagai penutup, kita harus memahami bahwa bakti kepada orang tua merupakan jalan lempang dan mulia yang mengantarkan seorang anak menuju surga Allah. Sebaliknya, kedurhakaan kepada mereka, bisa menyeret sang anak menuju lembah kehinaan, neraka.

Hati-hatilah, durhaka kepada orang tua, dosanya besar dan balasannya menyakitkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Akan terhina, akan terhina dan akan terhina!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullahj, siapakah gerangan ?” Beliau bersabda, “Orang yang mendapati orang tuanya, atau salah satunya pada hari tuanya, namun ia (tetap) masuk neraka” [Hadits Riwayat Muslim]

[Diadaptasi dari Idatush Shabirin, oleh Abdullah bin Ibrahim Al-Qa’rawi dan Ilzam Rijlaha Fatsamma Al-Jannah, oleh Shalihj bin Rasyid Al-Huwaimil]Anaku….Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh m

erobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.

Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku…
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku…
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…

Anakku…
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.

Anakku…
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayag dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.

Anakku…
Allah berfirman: “Dan dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal” [Yusuf : 111]

Pandanglah masa teladan dalam Islam, masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tua.

KISAH TELADAN KEPADA ORANG TUA
Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan kekufuran. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita.

Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku benci. Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku mengadu.

“Wahai Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku. Hari ini, dia berkomentar tentang dirimu yang aku benci. Mohonlah kepada Allah supaya memberi hidayah ibu Abu Hurairah”. Rasulullah bersabda : “Ya, Allah. Tunjukilah ibu Abu Hurairah”. Aku keluar dengan hati riang karena do’a Nabi. Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu terbuka. Ibuku mendengar kakiku dan berkata : “Tetap di situ Abu Hurairah”. Aku mendengar kucuran air. Ibu-ku sedang mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya serta menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia berkata : “Wahai, Abu Hurairah ! Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu”. Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan menangis gembira. Aku berkata, “Wahai, Rasulullah, Bergembiralah. Allah telah mengabulkan do’amu dan menunjuki ibuku”. Maka beliau memuji Allah dan menyanjungNya serta berkomentar baik” [Hadits Riwayat Muslim]

Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya : “Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku) wahai Ibnu Umar?” Beliau menjawab : “Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)”.

Zainal Abidin, adalah seorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang keheranan kepadanya (dan berkata) : “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam satu talam”? Ia menjawab,”Aku khawatir tanganku mengambil sesuatu yang dilirik matanya, sehingga aku durhaka kepadanya”.

Sebelumnya, kisah yang lebih mengharukan terjadi pada diri Uwais Al-Qarni, orang yang sudah beriman pada masa Nabi, sudah berangan-angan untuk berhijrah ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi. Namun perhatiannya kepada ibunya telah menunda tekadnya berhijrah. Ia ingin bisa meraih surga dan berteman dengan Nabi dengan baktinya kepada ibu, kendatipun harus kehilangan kemuliaan menjadi sahabat Beliau di dunia.

Dalam shahih Muslim, dari Usair bin Jabir, ia berkata : Bila rombongan dari Yaman datang, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka : “Apakah Uwais bin Amir bersama kalian ?” sampai akhirnya menemui Uwais. Umar bertanya, “Engkau Uwais bin Amir?” Ia menjawa,”Benar”. Umar bertanya, “Engkau dari Murad kemudian beralih ke Qarn?” Ia menjawab, “Benar”. Umar bertanya, “Engkau punya ibu?”. Ia menjawab, “Benar”. Umar (pun) mulai bercerita, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Akan datang pada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman yang berasal dari Murad dan kemudian dari Qarn. Ia pernah tertimpa lepra dan sembuh total, kecuali kulit yang sebesar logam dirham. Ia mempunyai ibu yang sangat dihormatinya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya aku hormati sumpahnya. Mintalah ia beristighfar untukmu jika bertemu”.

(Umar berkata), “Tolong mintakan ampun (kepada Allah) untukku”. Maka ia memohonkan ampunan untukku. Umar bertanya, “Kemana engkau akan pergi?”. Ia menjawab, “Kufah”. Umar berkata, “Maukah engkau jika aku menulis (rekomendasi) untukmu ke gubernurnya (Kufah)?” Ia menjawab, “Aku lebih suka bersama orang yang tidak dikenal”.


Kisah lainnya tentang bakti kepada ibu, yaitu Abdullah bin Aun pernah memanggil ibunya dengan suara keras, maka ia memerdekakan dua budak sebagai tanda penyesalannya.

KISAH KEDURHAKAAN KEPADA ORANG TUA
Diceritakan ada lelaki yang sangat durhaka kepada sang ayah sampai tega menyeret ayahnya ke pintu depan untuk mengusirnya dari rumah. Sang ayah ini dikarunia anak yang lebih durhaka darinya. Anak itu menyeret bapaknya sampai kejalanan untuk mengusirnya dari rumahnya. Maka sang bapak berkata : “Cukup… Dulu aku hanya menyeret ayahku sampai pintu depan”. Sang anak menimpali : “Itulah balasanmu. Adapun tembahan ini sebagai sedekh dariku!”.

Kisah pedih lainnya, seorang Ibu yang mengisahkan kesedihannya : “Suatu hari istri anakku meminta suaminya (anakku) agar menempatkanku di ruangan yang terpisah, berada di luar rumah. Tanpa ragu-ragu, anakku menyetujuinya. Saat musim dingin yang sangat menusuk, aku berusaha masuk ke dalam rumah, tapi pintu-pintu terkunci rapat. Rasa dingin pun menusuk tubuhku. Kondisiku semakin buruk. Anakku ingin membawaku kesuatu tempat. Perkiraanku ke rumah sakit, tetapi ternyata ia mencampakkanku ke panti jompo. Dan setelah itu tidak pernah lagu menemuiku”

Sebagai penutup, kita harus memahami bahwa bakti kepada orang tua merupakan jalan lempang dan mulia yang mengantarkan seorang anak menuju surga Allah. Sebaliknya, kedurhakaan kepada mereka, bisa menyeret sang anak menuju lembah kehinaan, neraka.

Hati-hatilah, durhaka kepada orang tua, dosanya besar dan balasannya menyakitkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Akan terhina, akan terhina dan akan terhina!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullahj, siapakah gerangan ?” Beliau bersabda, “Orang yang mendapati orang tuanya, atau salah satunya pada hari tuanya, namun ia (tetap) masuk neraka” [Hadits Riwayat Muslim]

[Diadaptasi dari Idatush Shabirin, oleh Abdullah bin Ibrahim Al-Qa’rawi dan Ilzam Rijlaha Fatsamma Al-Jannah, oleh Shalihj bin Rasyid Al-Huwaimil]